Rabu, 04 Juni 2014
NYANYIAN CAPRES
Pada Konser Indonesian Idol, masing2 Capres yang waktu itu sengaja diundang sebagai bintang tamu didaulat untuk menyanyikan sebuah lagu, tahu apa judul2 lagunya?
Pak Wiranto menyanyikan My Way.
Pak SBY menyanyikan I Believe I Can Fly.
Pak Amin Rais menyanyikan It's Now or Never.
Bu Mega menyanyikan Menghitung Hari.
Pak Hamzah menyanyikan Tidak Semua Laki-Laki.
Gus Dur sayangnya tereliminasi.
CARA MENJADI POLITIKUS
Pada suatu hari, ada orang menanya Perdana Menteri Inggeris: "Apa syarat-syaratnya untuk menjadi seorang politikus.?"
Perdana Menteri menjawab: "Politikus harus bisa meramalkan hari besok, bulan depan, tahun yang akan datang, dan beberapa hal ikhwal yang mungkin akan terjadi kelak."
Orang itu menanya lebih lanjut: "Kalau sampai waktunya, hal yang diramalkan tersebut tidak juga terwujud, bagaimana? Apa yang harus kita perbuat?"
Perdana Menteri berkata: "Nah, saat itu sudah sewajarnya kita perlu mencari dan membuat suatu alasan yang rasional."
Sumber: http://www.ketawa.com/2013/06/8991-cara-menjadi-politikus.html#ixzz33glkotDQ
Jusuf Kalla dan Hatta Rajasa Hanya Akan Berdebat Satu Kali
JAKARTA, KOMPAS.com - Komisi Pemilihan Umum (KPU) mengubah metode debat calon presiden dan wakil presiden. Sebelumnya, KPU menjadwalkan debat calon wakil presiden akan digelar sebanyak dua kali. Namun, akhirnya disepakati hanya satu kali.
"Setelah berdiskusi dengan tim kampanye nasional masing-masing pasangan calon, ada perubahan di metode debat. Tadinya debat antarcawapres akan dilakukan dua kali, sekarang menjadi satu kali saja," ujar Komisioner KPU Hadar Nafis Gumay di Jakarta, Rabu (4/6/2014).
Dalam serangkaian masa kampanye Pemilu Presiden 2014, KPU akan menggelar lima kali debat. Dengan perubahan ini, maka slot satu kali debat cawapres akan diganti dengan debat antarpasangan calon.
Sebelumnya, KPU menjadwalkan debat kandidat Pemilu Presiden (Pilpres) 2014 sebanyak lima kali dalam periode waktu 9 Juni hingga 5 Juli. Setelah berdiskusi dengan tim kampanye dari masing-masing pasangan calon, akhirnya disepakati pelaksanaan debat dilakukan mulai dari antarpasangan, antarcapres (2 kali), antarcawapres dan diakhiri dengan debat antarpasangan.
Tema yang akan dibahas dalam debat adalah Pembangunan Demokrasi, Pemerintahan yang Bersih dan Kepastian Hukum; Pembangunan Ekonomi dan Kesejahteraan Sosial; Politik Internasional dan Ketahanan Nasional; Pengembangan Sumber Daya Manusia dan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi; serta Pangan, Energi dan Lingkungan.
Debat akan disiarkan secara langsung dan bergantian melalui satu stasiun televisi milik Pemerintah TVRI dan 10 stasiun televisi swasta, yaitu SCTV, Indosiar, Berita Satu, Metro TV, Bloomberg, TV One, ANTEVE, RCTI, MNC TV, dan Kompas TV.
TANGIS KEKUASAAN
negeri ini
penuh sesak 235 juta jiwa
awan gamang bergelayut
di langit nusantara tanpa batas
lalu para pengamen
di bus-bus kota,
bernyani tentang,
yang kaya makin kaya
yang miskin tambah miskin
hari ini seperti kemarin
tak ada lembar baru ditorehkan
sebagai tanda
jiwa kekuasaan mendewasa
hari ini seperti kemarin
jiwa kekuasaan masih merapuh
serupa bocah meleler ingus
mengeja gagap alfabeta
menghapal susah arah mata angin
di atas gunung kekuasaan
sang pemimpin minta dielukan,
namun hari ini masih seperti kemarin
tak ada lembar baru musti ditorehkan
tragedi mengiris luka bangsa
sang pemimpin serupa anak panggung
menangis di atas podium
mengetalasekan tumpah airmata
dan kita pun lantas tersenyum getir
sebab paham
semua itu hanya airmata kekuasaan
tanpa hati, tanpa nurani
seorang office boy berucap:
“tiba-tiba perut saya mual
serasa hendak muntah di wajah
tuan pemimpin”
Senin, 28 April 2014
PRIBADI TO DO, TO HAVE, ATAU TO BE?
Tidak ada yang bisa menghentikan waktu. Ia terus maju. Umur terus bertambah. Manusia pun mengalami babak-babak dalam hidupnya. Saat masuk fase dewasa, orang memasuki tiga tahapan kehidupan.
Ada masa di mana orang terfokus untuk melakukan sesuatu (to do). Ada saat memfokuskan diri untuk mengumpulkan (to have). Ada yang giat mencari makna hidup (to be). Celakanya, tidak semua orang mampu melewati tiga tahapan proses itu.
Fase pertama, fase to do. Pada fase ini, orang masih produktif. Orang bekerja giat dengan seribu satu alasan. Tapi, banyak orang kecanduan kerja, membanting tulang, sampai mengorbankan banyak hal, tetap tidak menghasilkan buah yang lebih baik. Ini sangat menyedihkan. Orang dibekap oleh kesibukan, tapi tidak ada kemajuan. Hal itu tergambar dalam cerita singkat ini. Ada orang melihat sebuah sampan di tepi danau. Segera ia meloncat dan mulailah mendayung. Ia terus mendayung dengan semangat. Sampan memang bergerak. Tapi, tidak juga menjauh dari bibir danau. Orang itu sadar, sampan itu masih terikat dengan tali di sebuah tiang.
Nah, kebanyakan dari kita, merasa sudah bekerja banyak. Tapi, ternyata tidak produktif. Seorang kolega memutuskan keluar dari perusahaan. Ia mau membangun bisnis sendiri. Dengan gembira, ia mempromosikan bisnisnya. Kartu nama dan brosur disebar. Ia bertingkah sebagai orang sibuk.
Tapi, dua tahun berlalu, tapi bisnisnya belum menghasilkan apa-apa. Tentu, kondisi ini sangat memprihatinkan. Jay Abraham, pakar motivasi bidang keuangan dan marketing pernah berujar, “Banyak orang mengatakan berbisnis. Tapi, tidak ada hasil apa pun. Itu bukanlah bisnis.” Marilah kita menengok hidup kita sendiri. Apakah kita hanya sibuk dan bekerja giat, tapi tanpa sadar kita tidak menghasilkan apa-apa?
Fase kedua, fase to have. Pada fase ini, orang mulai menghasilkan. Tapi, ada bahaya, orang akan terjebak dalam kesibukan mengumpulkan harta benda saja. Orang terobesesi mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya. Meski hartanya segunung, tapi dia tidak mampu menikmati kehidupan. Matanya telah tertutup materi dan lupa memandangi berbagai keindahan dan kejutan dalam hidup. Lebih-lebih, memberikan secuil arti bagi hidup yang sudah dijalani. Banyak orang masuk dalam fase ini.
Dunia senantiasa mengundang kita untuk memiliki banyak hal. Sentra-sentra perbelanjaan yang mengepung dari berbagai arah telah memaksa kita untuk mengkonsumsi banyak barang.
Bahkan, dunia menawarkan persepsi baru. Orang yang sukses adalah orang yang mempunyai banyak hal. Tapi, persepsi keliru ini sering membuat orang mengorbankan banyak hal. Entah itu perkawinan, keluarga, kesehatan, maupun spiritual.
Secara psikologis, fase itu tidaklah buruk. Harga diri dan rasa kepuasan diri bisa dibangun dengan prestasi-prestasi yang dimiliki. Namun, persoalan terletak pada kelekatannya. Orang tidak lagi menjadi pribadi yang merdeka.
Seorang sahabat yang menjadi direktur produksi membeberkan kejujuran di balik kesuksesannya. Ia meratapi relasi dengan kedua anaknya yang memburuk. “Andai saja meja kerja saya ini mampu bercerita tentang betapa banyak air mata yang menetes di sini, mungkin meja ini bisa bercerita tentang kesepian batin saya…,” katanya.
Fase itu menjadi pembuktian jati diri kita. Kita perlu melewatinya. Tapi, ini seperti minum air laut. Semakin banyak minum, semakin kita haus. Akhirnya, kita terobsesi untuk minum lebih banyak lagi.
Fase ketiga, fase to be. Pada fase ini, orang tidak hanya bekerja dan mengumpulkan, tapi juga memaknai. Orang terus mengasah kesadaran diri untuk menjadi pribadi yang semakin baik. Seorang dokter berkisah. Ia terobesesi menjadi kaya karena masa kecilnya cukup miskin. Saat umur menyusuri senja, ia sudah memiliki semuanya. Ia ingin mesyukuri dan memaknai semua itu dengan membuka banyak klinik dan posyandu di desa-desa miskin.
Memaknai hidup
Ia memaknai hidupnya dengan menjadi makna bagi orang lain. Ada juga seorang pebisnis besar dengan latar belakang pertanian hijrah ke desa untuk memberdayakan para petani. Keduanya mengaku sangat menikmati pilihannya itu.
Ia memaknai hidupnya dengan menjadi makna bagi orang lain. Ada juga seorang pebisnis besar dengan latar belakang pertanian hijrah ke desa untuk memberdayakan para petani. Keduanya mengaku sangat menikmati pilihannya itu.
Fase ini merupakan fase kita menjadi pribadi yang lebih bermakna. Kita menjadi pribadi yang berharga bukan karena harta yang kita miliki, melainkan apa yang bisa kita berikan bagi orang lain.
Hidup kita seperti roti. Roti akan berharga jika bisa kita bagikan bagi banyak orang yang membutuhkan. John Maxwell dalam buku Success to Significant mengatakan “Pertanyaan terpenting yang harus diajukan bukanlah apa yang kuperoleh. Tapi, menjadi apakah aku ini?”
Nah, Mahatma Gandhi menjadi contoh konkret pribadi macam ini. Sebenarnya, ia menjadi seorang pengacara sukses. Tapi, ia memilih memperjuangkan seturut nuraninya. Ia menjadi pejuang kemanusiaan bagi kaum papa India.
Nah, di fase manakah hidup kita sekarang? Marilah kita terobsesi bukan dengan bekerja atau memiliki, tetapi menjadi pribadi yang lebih matang, lebih bermakna dan berkontribusi!
Langganan:
Komentar (Atom)