Rabu, 04 Juni 2014
TANGIS KEKUASAAN
negeri ini
penuh sesak 235 juta jiwa
awan gamang bergelayut
di langit nusantara tanpa batas
lalu para pengamen
di bus-bus kota,
bernyani tentang,
yang kaya makin kaya
yang miskin tambah miskin
hari ini seperti kemarin
tak ada lembar baru ditorehkan
sebagai tanda
jiwa kekuasaan mendewasa
hari ini seperti kemarin
jiwa kekuasaan masih merapuh
serupa bocah meleler ingus
mengeja gagap alfabeta
menghapal susah arah mata angin
di atas gunung kekuasaan
sang pemimpin minta dielukan,
namun hari ini masih seperti kemarin
tak ada lembar baru musti ditorehkan
tragedi mengiris luka bangsa
sang pemimpin serupa anak panggung
menangis di atas podium
mengetalasekan tumpah airmata
dan kita pun lantas tersenyum getir
sebab paham
semua itu hanya airmata kekuasaan
tanpa hati, tanpa nurani
seorang office boy berucap:
“tiba-tiba perut saya mual
serasa hendak muntah di wajah
tuan pemimpin”
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar